20120728

Eksistensi Tradisi Baleo Lamalera

Seekor paus berhasil dilumpuhkan para pemuda Lamalera
Perburuan ikan paus tentu mengundang pro dan kontra dari berbagai pihak. Di kalangan pecinta lingkungan, tradisi ini dinilai akan mengancam populasi ikan paus. Namun jika ditelaah kembali, tradisi Baleo di Desa Lamalera bukan lah perburuan komersil, akan tetapi hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hidup mereka tetap lah pas-pasan. Perburuan ini sama sekali tidak menggunakan teknologi  canggih seperti di Jepang dan Norwegia, akan tapi hanya lah perburuan menggunakan perahu dan senjata tradisional dengan taruhan nyawa. Disamping itu, perburuan Baleo di Lamalera merupakan tradisi turun temurun sejak ratusan tahun. 

Seorang turis dari Spanyol (kiri) dan Argentina (kanan)

Flava, seorang wisatawan manca negara dari Argentina yang kami temui saat itu menuturkan bahwa, penjajah portugis yang datang 400 tahun yang lalu pernah menjumpai tradisi di Lamalera ini. Dari aspek budaya, ini merupakan tradisi yang unik dan turun temurun sejak ratusan tahun. Dari aspek ekonomi, tradisi ini menjadi tumpuan hidup bagi masyarakat Lamalera. Flava juga berpendapat bahwa kalau masalah konservasi, seharusnya perburuan di Jepang dan Norwegia lah yang harus dilarang, karena perburuan mereka menggunakan teknologi canggih yang sekali beraksi bisa mendapatkan puluhan hingga ratusan ekor ikan paus. 


Perburuan paus dan lumba-lumba di Denmark
Perburuan ikan paus yang mengundang protes keras juga terjadi di Faroe Island Denmark. Mereka memburu ikan paus dan lumba-lumba besar-besaran. Untuk lebih jelasnya bisa klik disini. Tidak ada nilai tradisi pada kegiatan tersebut kecuali semata-mata mencari keuntungan sebesar-besarnya. Hal ini bisa dibandiingkan dengan tradisi Baleo di Lamalera. Jumlah ikan paus yang diburu di Lamalera tidak signifikan dalam hal jumlah, namun sangat berarti dan bernilai jika ditinjau dari segi antropologi budaya dan ekonomi masyarakat.
Wacana konservasi ikan paus juga telah berhembus ke masyarakat Lamalera dan membuat resah banyak warga desa. Mereka tidak tahu lagi harus bagaimana mencari penghidupan yang lain jika perburuan ikan paus tradisional ini benar-benar dilarang. Mama Maria yang memiliki usaha homestay menuturkan bahwa, banyak janda-janda dan orang-orang tua yang mendapat berkah jika seekor ikan paus ditangkap. Mereka yang sudah tidak mampu bekerja akan mengandalkan penangkapan ikan paus ini sebagai penyangga hidup mereka. Hal ini dikarenakan, jika satu ekor ikan paus ditangkap, maka seluruh penduduk desa akan mendapatkan bagian. 



Desa Lamalera B (bawah) yang dikelilingi bukit
Para pemuda desa pun tidak bisa mengandalkan tanah Lamalera yang kondisinya berbukit dan berbatu. Mereka yang bertani umumnya bertanam jambu mete, berada di desa Lamalera A (atas), sedangkan Lamalera B (bawah) umumnya nelayan untuk mencukupi kebutuhan harian. Apabila seekor ikan paus berhasil ditangkap maka setidaknya bisa memenuhi kebutuhan lain seperti menyantuni masyarakat yang tidak mampu bekerja termasuk biaya sekolah bagi anak-anak. Akhir tahun ini, penangkapan terakhir adalah 3-4 bulan yang lalu yang menewaskan seorang lamafa.

5 komentar:

Pembicara Internet Marketing mengatakan...

Lamalera, aku selalu merindukanmu

Bpk. Taufiq Ismail mengatakan...

.Muantabbbss.. htpp://www.jualbibitdurian.com

Bpk. Taufiq Ismail mengatakan...

bagus sekali. htpp://www.bibitdurianbawor.blogspot.com

Kampung Inggris mengatakan...

Lamalera, aku ingin kesana lagi

Biji Plastik mengatakan...

Ingin sekali bisa ke Lamalera, butuh dana tambahan nih

Ayo berbagi informasi tentang traveling NTT, silahkan kunjungi Jelajah NTT di Facebook

Posting Komentar