20120729

Drama Perburuan Ikan Paus di Lamalera Lembata

Dua lamafa menghujamkan tempulingnya ke arah ikan paus
Baleooo.... Baleoo..!!" Teriak seorang pemuda yang sedang menyulam jala demi melihat semburan air di tengah laut. Beberapa orang yang tidak jauh dari situ seketika juga melihat ke tengah laut dan terperanjat. Semburan air yang menjulang tinggi di tengah laut menunjukkan adanya ikan paus (baleo) yang sedang melintas. Teriakan 'baleo' tak lama kemudian semakin menggema dan sahut menyahut di setiap lorong di Desa Lamalera.



Penduduk desa berlari berhamburan menuju ke pantai. Diantara mereka juga terdapat beberapa wartawan dan wisatawan yang sudah menunggu sejak lama. Tua, muda, laki-laki dan perempuan menuju satu titik dimana pledang (perahu tradisional) telah siaga dan siap ditarik menuju ke laut. Para pemuda membentuk grup masing-masing sekitar 10 orang satu grup. Tiap grup menuju sebuah pledang dan menurunkannya ke laut. Tiap pledang terdapat batang-batang kayu berbentuk silinder di bawahnya agar mudah didorong. Pemuda yang lain memungut batang kayu yang ditinggalkan untuk dipasang kembali di depan perahu, hingga akhirnya pledang bisa masuk ke laut.
Rumah-rumah pledang
Beberapa perahu motor telah meluncur dan menghampiri pledang yang sudah siap berlabuh, melemparkan tali dan menariknya. Arah yang dituju adalah ikan paus yang sedang melintas. Pada jarak tertentu, pledang melepaskan tali untuk mendayung sendiri sedangkan perahu motor kembali ke pantai untuk menarik pledang yang lain.




Tak lama kemudian, ikan paus telah terkepung oleh pledang-pledang para pemuda Lamalera. Tak ada jalan bagi ikan paus untuk menghindar lagi. Dua pledang dengan seorang lamafa (juru tikam) masing-masing yang berdiri di anjungan perlahan merangsek semakin dekat. Sebuah batang bambu yang berujung senjata yang disebut tempuling digenggam makin erat di tangan. Dengan sebuah aba-aba, dua lamafa melompat ke arah binatang raksasa itu sambil menghujamkan tempuling sekuat tenaga.

Bagian paling kiri tempuling menancap pada ujung bambu
Batang bambu sebagai pegangan telah lepas, dan tempuling menghujam sangat dalam ke tubuh ikan paus. Sang lamafa telah meraih tali yang terikat pada tempuling. Seketika ikan paus meronta kesakitan dan berenang tak tentu arah dengan dua lamafa yang tetap menggenggam tali tempuling. Air laut berubah merah oleh darah ikan paus. Setelah sekian lama bergelut dengan maut karena terseret oleh paus yang sedang sekarat, akhirnya dua lamafa tersebut bisa bernafas lega. Ikan paus  semakin kehabisan darah dan mulai melemah. Sang lamafa kini mampu mengusai keadaan kemudian mengikat dan menarik buruannya ke pantai dibantu puluhan orang yang ikut mengepung.

Tempuling terbuat dari  besi berujung tajam dengan kait dibelakangnya. Seutas tali terikat dibagian tengah kemudian ujungnya menancap pada batang bambu sebagai pegangan. Jika senjata itu masuk ke bagian tubuh ikan paus maka kait senjata itu akan membuat sulit dicabut. Ketika pegangan sebatang bambu terlepas maka yang tertinggal adalah tempuling dengan tali yang ujungnya telah digenggam oleh sang lamafa.


Beberapa batang bambu untuk berbagai ukuran tempuling

Perburuan ikan paus tidak selalu berjalan mulus. Tidak jarang kegiatan ini memakan korban baik terluka hingga tewas. Pada bulan maret lalu, seorang lamafa bernama Gregorius Kelake Tapoona tewas setelah Paus yang ditikamnya meronta dan mengibaskan ekor ke perutnya. Gregorius sempat dirawat 1 hari di Puskesmas Wulandoni, namun akhirnya meninggal sebelum sempat dirujuk ke rumah sakit Lewoleba.



Tulang-belulang dari sang raksasa laut
Di sebuah rumah di belakang rumah-rumah pledang, penulis menjumpai seseorang yang sudah berusia lanjut dan tidak memiliki tangan kanan sebatas bahu. Orang tua itu dulunya adalah seorang lamafa. Konon, ketika tempuling dihujamkan ke tubuh ikan paus, tali tempuling kurang bisa dikuasai sehingga terbelit pada lengan. Ketika ikan paus meronta, tali tempuling ikut tertarik hingga membuat tangan sang lamafa putus.


Sebuah rekaman video yang meliput langsung penangkapan paus dibuat oleh sebuah lembaga pemerhati festival Baleo ini yang berasal dari Hungaria. Rekaman tersebut memperlihatkan perburuan dalam jarak dekat. Kameramen ikut menumpang salah satu pledang bahkan ikut masuk ke dalam air ketika sang lamafa terjun ke air. Untuk mendownload video tersebut silahkan klik disini. Untuk melihat lokasi pledang di Peta Google silahkan klik disini.

2 komentar:

Parador mengatakan...

pengen deh main kesana....kapan ya

Travel Blog mengatakan...

Wow...cool. NTT would be on my next bucket list :D

Ayo berbagi informasi tentang traveling NTT, silahkan kunjungi Jelajah NTT di Facebook

Posting Komentar