20111104

Liputan Perjalanan Ngada – Ende

Senja di Pantai Nangapanda Ende - Flores

Perjalanan ke Flores kali ini, kami harus mendahulukan Kabupaten Ngada karena pertimbangan tugas dari kantor. Perlu diketahui, Kabupaten Ngada telah menerapkan 5 hari kerja, sedangkan Kabupaten Ende masih 6 hari kerja. Oleh karena itu, kami harus tiba di Ngada lebih dulu karena hari sabtu masih bisa ke Ende untuk urusan kantor. Sayangnya, karena Bandara Soa di Kabupaten Ngada adalah bandara yang kecil (Klas III), sehingga kami tidak punya banyak pilihan pesawat. Pilihannya hanyalah Pesawat Merpati  jenis Fokker yang menggunakan baling-baling. Perjalanan sempat terganggu karena setelah kami boarding, pesawat ternyata mengalami gangguan dan harus diperbaiki sehingga penumpang diminta turun kembali. Setelah lebih kurang 1,5 jam, kami kembali boarding dan siap take off.



Gerbang menuju Kemah Tabor Mataloko Ngada
Penerbangan Kupang-Soa memakan waktu sekitar 45 menit. Turun di Bandara Soa kami menuju Kota Bajawa dengan menggunakan jasa travel. Tarif cukup Rp. 20 ribu saja dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Kota Bajawa Kabupaten Ngada adalah kota yang berhawa dingin. Keindahan alam yang berbukit-bukit membuat banyak turis asing datang ke Ngada. Beberapa kali kami harus keluar masuk hotel karena banyak yang penuh. Akhirnya kami menemukan sebuah Hotel,  yaitu Bintang Wisata. Cukup bersih dan tentunya tidak perlu AC karena hawa sudah sangat dingin. Ada seorang bule asal Belanda yang tinggal di sebelah kamar, sudah menginap selama 6 bulan untuk mengurus bisnis travel. Bule baik hati dan ramah itu selalu mengajak ngobrol setiap kali berpapasan sehingga membuat kami kerasan karena mendapat teman baru.

Gedung Kemah Tabor
Setelah berurusan dengan tugas dari kantor, kami sudah bersiap untuk pergi ke Kampung Adat Bena. Dengan menggunakan jasa ojek dengan tarif Rp. 50 ribu kami berangkat dengan menempuh perjalanan sekitar 1 jam. Jalanan cukup baik dan beraspal, namun belokannya sangat banyak dan cukup tajam disertai naik turun bukit. Inilah yang menyebabkan perjalanan tidak bisa lebih kencang lagi. Pada bagian ujung perjalanan, beberapa ruas jalan sedang diperbaiki sekitar 3 km, menyebabkan kami harus berjalan dengan sangat hati-hati.  Hal ini dikarenakan jalanan tertutup dengan pasir kerikil padahal banyak bergelombang dan berbelok-belok. Namun syukur lah, akhirnya kami bisa sampai ke Kampung Adat Bena dan pulang kembali ke hotel dengan selamat.

Seminari Yoh Berkhmans Matoloko  tampak dari Kemah Tabor
Perjalanan ke Sumber Air Panas Mengeruda memakan waktu sekitar 45 menit dari hotel.  Lokasi Sumber Air Panas Mengeruda dekat dengan Bandara. Kebetulan kami dijamu oleh teman kantor yang ditempatkan di daerah tersebut sehingga pelayanannya dijamin memuaskan. Seorang teman tersebut juga merekomendasikan air terjun di daerah dekat dia tinggal, namun karena waktu yang tidak mengijinkan lagi maka kami harus undur diri untuk melanjutkan perjalanan ke Ende.


Perjalanan dari Ngada ke Ende menggunakan jasa travel dengan tarif Rp. 70 ribu dan waktu tempuh sekitar 3 jam. Mobil cukup nyaman, full music  dan ber-ac, yaitu menggunakan APV. Sopir juga sangat baik dan jujur, meskipun tampang preman. Ketika perjalanan sampai di seminari Mataloko, kami meminta ijin kepada sopir dan seluruh penumpang untuk turun memotret, tanpa ragu-ragu mereka mempersilahkan kami. Bahkan sopir ikut turun dan mengantar sampai masuk gerbang. Melihat kemegahan gedung-gedung ini, kami berharap kelak bisa meliput Seminari Mataloko ini dan menelusuri sejarahnya.

Ketika sudah masuk ke Kabupaten Ende, perjalanan menjadi semakin asyik karena jalan raya berada ditepi pantai hingga masuk kota. Kami bisa menikmati indahnya Pantai Nangapanda di kala senja yang merah. Kamera segera kami siapkan melalui jendela mobil, siapa tau dapat momen menarik.

Batu Belah untuk jalan raya (bekas tangga alam)
Sampai di Ende masih bernasib sama dengan waktu di Bajawa, yaitu susah cari hotel karena cukup banyak wisatawan. Sekitar 5 kali kami keluar masuk hotel akhirnya menemukan Hotel Dewi Putra yang cukup bagus dan bersih. Hotel kami sangat dekat dengan lokasi Situs Rumah Pengasingan Bung Karno, cukup berjalan kaki sekitar 5 menit. Namun sayang, untuk yang kedua kalinya datang ke Ende, penjaga situs tidak bisa ditemui setelah kami meminta tukang ojek untuk menjemput ke rumahnya. Kali ini dia ada acara keluarga. Kami sudah mengambil foto situs tersebut dari luar rumah, yaitu hanya sampai pekarangan depan dan belakang rumah saja, beberapa waktu yang lalu. Untuk melengkapi artikel tentang situs ini, akhirnya kami hanya bisa bertanya-tanya via telpon saja ke penjaga rumah dan dari sumber-sumber informasi lainnya.

Sebagai ganti dari kekecewaan kami ini, seorang teman dari dinas kabupaten yang selalu setia menemani, mengajak kami ke Kampung Adat Wolotopo. Perjalanan ke Wolotopo sekitar 45 menit dari hotel. Semakin mendekati wilayah Wolotopo, perjalanan semakin berbukit dan berada di tepi pantai. Yang menarik adalah ketika sampai di sebuah bukit yang dibelah untuk jalan raya. Teman kami bercerita, dulu sebelum batu itu dibelah untuk jalan raya, terdapat tangga alam selebar badan manusia yang menghubungkan ujung bukit ke ujung lainnya. Ketika air laut pasang, orang yang mau ke Wolotopo akan mendaki bukit itu melalui tangga ala mini. Namun apabila air laut surut, orang lebih memilih untuk menyusuri pesisir pantai.

Bye..bye.. Ende
Pulang dari Wolotopo adalah akhir dari petualangan kami, karena waktu telah menunjukkan bahwa kami harus segera ke Bandara H. Hasan Aroeboesman Ende untuk check in. Cukup melegakan di bandara ini karena merupakan bandara yang cukup besar Klas II dan kita bisa memilih pesawat. Perjalanan Ende-Kupang ditempuh dengan pesawat sekitar 45 menit.






(HDI/jelajahntt)
Kami akan sangat berterima kasih apabila ada koreksi dari pengunjung website ini yang tahu persis lokasi tersebut. Silahkan memberikan komentar dibawah ini.
Kami juga menerima artikel yang disertai foto-foto lokasi atau kegiatan budaya melalui email: redaksi@jelajahntt.com.

2 komentar:

ANA RIANA mengatakan...

mohon informasinya kalau dari kupang mau ke mataloko itu naik pesawat apa yaa ?

Admin JelajahNTT mengatakan...

Mataloko msk wilayah Ngada. Jika ambil rute Kupang (KOE)- Bajawa (BJW) turun bandara Soa-Ngada dilanjutkan travel ke arah Ende. Flight yg ada WIngs-air dan TransNusa (lokal). Tp jika ambil rute KOE-ENE, lbh byk pilihan, Garuda, Wings-air, Kalstar dan TransNusa.
Utk lbh jelas ttg info penerbangan, bisa Cal/SMS/WA/Line 082146.334333 atau http://tiket.jelajahNTT.com

Ayo berbagi informasi tentang traveling NTT, silahkan kunjungi Jelajah NTT di Facebook

Posting Komentar