20111127

Liputan perjalanan ke Pulau Komodo

Rute jelajahntt.com dari Labuan Bajo ke Pulau Komodo

Satu-satunya akses ke Pulau Komodo hanyalah dari Labuan Bajo. Posisi geografis Pulau Komodo sebenarnya ditengah-tengah antara Labuan Bajo Manggarai Barat NTT dengan Bima NTB. Namun sesuai kebijakan Pemerintah Daerah, kapal feri dari Pelabuhan Sape Bima tidak boleh lagi sandar di Pulau Komodo. Dengan kebijakan ini, banyaknya wisatawan yang ingin ke Pulau Komodo harus berangkat dari dermaga Labuan Bajo sehingga dapat menunjang kehidupan di wilayah Labuan Bajo, baik perhotelan, warung/restoran, pelayanan angkutan air, dan sebagainya.


Perahu-perahu nelayan yang siap mengantar
Banyak pilihan transportasi laut untuk menuju ke Pulau Komodo. Pilihan transportasi laut bisa disesuaikan dengan alokasi biaya dan waktu yang tersedia. Bagi yang berkunjung secara berkelompok tentunya akan lebih murah dan leluasa untuk menentukan ke pulau mana saja dan akan singgah berapa lama dengan menyewa perahu motor. Ketika kami mencoba untuk mendapatkan perahu motor, si pemilik semula menawarkan Rp. 1.200.000,- . Harga sebesar itu adalah untuk berkeliling dan singgah ke beberapa pulau. Dengan pertimbangan waktu yang terbatas, kami hanya memilih Pulau Komodo saja sebagai tujuan perjalanan ini. Akhirnya harga disepakati dengan Rp. 600rb.


Dari dermaga Labuan Bajo kami berangkat jam 8.15 Wita dan tiba di dermaga sekitar jam 11.15. Wita.  Memasuki pintu masuk kawasan Taman Nasional Komodo, kami membayar di loket untuk beberapa hal seperti pada table berikut:

Jenis Karcis
Otoritas
Biaya (Rp.)
Tanda masuk
Pemerintah Kabupaten
10.000,-
Tanda masuk
Pemerintah RI
2.500,-
Kamera Non Komersial
Pemerintah RI
5.000,-
Jasa Pemandu (trail 1 jam)
Pengelola TNK
50.000,-

Total
67.500,-



Trekking 1 jam menemukan 1 bukit
Jasa pemandu, atau biasa disebut ranger, adalah yang akan mendampingi pengunjung dalam melakukan trekking. Sebelum memulai trekking, pemandu akan menanyakan pada pengunjung akan mengambil pilihan trekking untuk berapa jam. Ada trekking 1 jam, 2 jam, 3, jam sampai dengan trekking 8 jam. Pilihan ini akan menentukan rute mana yang akan dilalui. Saat itu kami mengambil trekking satu jam saja, sehingga didapatkan nama trail Loh Liang – Banu Nggulung. Ini adalah nama tempat yang mengambil istilah dari bahasa setempat. Rute ini hanya akan menemukan satu puncak bukit dengan nama Sulphurea Hill top. 


Para ranger bersiap dengan tongkat ujung bercabang
Pemandu akan selalu melengkapi diri dengan sebuah tongkat yang mempunyai ujung bercabang sebagai senjata pertahanan terhadap komodo. Kayu yang dipakai adalah kayu nggulung, yaitu dari jenis pohon yang ada di Pulau Komodo yang menurut salah seorang pemandu kayu tersebut sangat kuat. Pemakaiannya adalah untuk menahan leher komodo apabila tiba-tiba menyerang. Dengan menahan leher nya dengan kayu bercabang ini, komodo menjadi tidak berdaya. Komodo hanya akan menyerang apabila diganggu atau terkejut. Untuk itu pengujung yang melakukan trekking diharapkan memperhatikan hal-hal berikut:

  • Tidak terlalu dekat dengan komodo
  • Tidak berlari atau melakukan gerakan tiba-tiba
  • Berhati-hati ketika berjalan agar tidak mengusik apalagi sampe menginjak bagian tubuh komodo

Seekor komodo kecil berusia 3-4 bln berjalan di kafe
Komodo yang hidup di Pulau Komodo ini tidak di kurung sama sekali tapi dibiarkan liar. Mereka lebih suka mencari mangsa sendiri yaitu ribuan ekor rusa dan babi hutan yang hidup liar juga, dari pada diberi makan oleh petugas. Saat tidak mencari mangsa, komodo adalah binatang yang sangat malas dan jarang bergerak. Pada saat melakukan trekking, kami juga khawatir kalau-kalau menginjak ekor komodo yang bentuk nya mirip akar pohon.






Lautan mulai gelap
Setelah rute 1 jam kami berakhir, kami langsung menuju kafe yang dikelola oleh para petugas TNK. Sambil duduk dan minum soft-drink dingin, kami ngobrol dengan para petugas. Seekor komodo kecil sempat melintas di lantai kayu kafe dan seekor komodo lagi yang berusia satu tahun melintas di dekat kafe. Tanpa terasa hari sudah menjelang sore, dan kami harus pulang mengingat perjalanan laut masih sekitar 3 jam lagi. Apabila sampai terlambat, maka akan ada arus laut yang besar dan kadang membawa kayu-kayu sehingga membahayakan perahu. Pada saat kami bersiap pulang, dari jauh terlihat pemilik perahu datang menjemput kami dengan wajah khawatir. Kami pun segera pamit untuk pulang ke Labuan Bajo.

Menu ikan bakar di warung pinggir pantai
Dalam perjalanan pulang, waktu tempuh  perahu motor menjadi lebih lama 1 jam, yaitu 4 jam baru tiba di dermaga Labuan Bajo. Hal ini karena 1 jam sebelum sampai tujuan, hari sudah mulai gelap. Sang pemilik perahu motor pun mulai menyalakan lampu berkedip yang seterang lampu blitz dibagian depan perahu motor agar tidak menabrak karang atau perahu motor lain. Tiba di dermaga sudah jam 7.30 wita, kami pun langsung menghambur ke warung pinggir pantai di sebelah tempat pelelangan ikan. Kami memilih menu ikan bakar di salah satu warung milik orang asal Banyuwangi. Menu yang enak apalagi saat perut lapar seperti ini hanya cukup membayar Rp. 25rb komplit dengan the hangat. Kelak kami akan kembali ke Labuan Bajo untuk mengunjungi obyek-obyek lain yang masih banyak lagi. Semoga bisa tercapai.



4 komentar:

Ayo berbagi informasi tentang traveling NTT, silahkan kunjungi Jelajah NTT di Facebook

Posting Komentar