20111105

Desa Sikka Kecamatan Lela Kabupaten Sikka

(Koordinat:   8°44'56.79"S, 122°11'47.27"E)
Bekas Istana Raja Sikka
Bukan sebuah kebetulan kalau nama desa ini sama dengan Kabupaten Sikka. Desa Sikka memang menyimpan sejarah penting sebagai cikal bakal berdirinya Kabupaten Sikka.  Di desa inilah pemerintahan awal Portugis bermula. Beberapa jejak yang masih tersisa adalah bekas istana Raja Sikka yang terletak di tepi pantai dan sebuah gereja tua yaitu Gereja Santo Ignatius yg telah berusia lebih dari seabad. Meskipun sepi dan terpencil, namun hampir tiap hari setidaknya ada 1-2 orang wisatawan yang datang berkunjung ke desa ini.


Istana Raja dipinggir pantai
Tradisi menarik di Desa Sikka yaitu perarakan pada saat prosesi Jumat Agung. Tradisi yang sudah ratusan tahun tersebut adalah dengan mengarak Patung Sinyor keliling desa bersamaan dengan perayaan Jumat Agung.  Patung Sinyor dibawa ke Desa Sikka oleh Raja Sikka sejak tahun 1607 yang datang dari Malaka. Masyarakat percaya, ketika orang menerebos dibawah Patung Sinyor saat perarakan Jumat Agung, harapannya akan terkabul. Kepala Desa Sikka, Bapak Ignasius Mikhael Riwu menuturkan, ada seorang yang mengidap penyakit menahun yang sudah parah, setelah menerobos dibawah Patung Sinyor penyakitnya berangsur sembuh. Mulai saat itu, orang tersebut berjanji akan selalu mengikuti perarakan Patung Sinyor pada prosesi Jumat Agung di Desa Sikka setiap tahun.

Gereja Santo Ignatius
Sebuah budaya kuno warisan portugis ternyata juga masih dilestarikan oleh pemuda Desa Sikka. Budaya itu adalah Tarian Bobu, sebuah sendratari berdurasi 1 jam yang dimainkan oleh sekitar 40 orang dengan menggunakan Bahasa Portugis Kuno. Tarian Bobu masih dimainkan secara rutin tiap tahun pada masa kerajaan terakhir di Desa Sikka yaitu Raja Don Thomas. Acara rutin tahunan diadakan yaitu pada rangkaian acara Natal dan Tahun Baru di halaman istana. Namun seiring dengan pindahnya kota Kerajaan Sikka di Maumere, tarian ini menjadi sangat jarang dimainkan. Atas jasa Bapak Orestis Pareira, pembina Sanggar Gerebue, Tarian Bobu masih dikuasai dengan baik oleh para pemuda desa Sikka hingga saat ini. Apa saja kiat-kiat Bapak Orestis Pareira sehingga budaya yang sudah ratusan tahun ini masih lestari?

Masyarakat Desa Sikka umumnya memiliki taraf ekonomi yang pas-pasan. Kegiatan latihan di sanggar tari seperti Sanggar Gerebue tentu tidak menarik minat mereka ketika dihadapkan dengan kebutuhan ekonomi. Untuk mengatasi masalah ini, Bapak Orestis mengupayakan agar para siswa Sanggar Gerebue dapat diberikan bantuan ala kadarnya karena menyita waktunya untuk latihan. Dana didapatkan dari bantuan LSM. Penampilan Tarian Bobu yang terakhir adalah pada 26 Desember 2004 juga dibiayai oleh sebuah LSM yaitu Yayasan Kelola dengan dana Rp. 20 juta. Bapak Orestis mengaku tidak khawatir budaya ini akan punah, karena sangat banyak pemuda desa yang bisa memainkan Tarian Bobu.

Bpk Orestis Pareira Pengasuh Sanggar Gerebue 
Disamping Tarian Bobu yang dibina oleh Sanggar Gerebue, Desa Sikka juga memiliki beberapa sanggar yang membina pengrajin tenun ikat, diantaranya adalah Sanggar Nona Bini dan Sanggar Depungdaang. Sanggar Nona Bini setahun terakhir ini kurang banyak beraktivitas karena pembinanya sedang sakit. Adapun Sanggar Depungdaang masih aktif dibawah binaan Mama Asumpta. Disamping terus memproduksi kain tenun ikat khas Sikka, Sanggar Depungdaang juga biasa diminta untuk mendemonstrasikan proses pembuatan tenun ikat. Baik Sanggar Tari Gerebue maupun Sanggar Tenun Ikat Depungdaang siap untuk melayani wisatawan apabila diminta untuk menampilkan  Tarian Bobu dan demonstrasi pembuatan tenun ikat dari awal hingga akhir. Pemesanan dapat dilakukan minimal 3 minggu sebelumnya dengan menghubungi admin jelajahntt.com.

(HDI-jelajahntt.com)

Mari berbagi informasi, silahkan memberi komentar dibawah ini. Jika ada kekeliruan pada tulisan diatas akan kami koreksi.
Bagi Anda yang mengetahui potensi Wisata NTT dan bisa meliputnya, bisa mengirimkan email ke: admin@jelajahntt.com

Tidak ada komentar:

Ayo berbagi informasi tentang traveling NTT, silahkan kunjungi Jelajah NTT di Facebook

Posting Komentar